Ussy Sulistiawaty Menjadikan Anaknya Nomor Satu

Ussy Sulistiawaty

Perhatian artis cantik Ussy Sulistiawaty terhadap anak semata wayangnya, Shafa Al Zahra, sangat besar. Kendati kesibukannya menjalani show keluar kota saat ini cukup padat, tapi untuk urusan anak, mantan istri Yusuf Sugianto ini mengaku selalu menomorsatukannya.

Menurut Ussy, walau berada di luar kota, dia selalu berhubungan dengan Shafa yang akan menginjak usia 3 tahun pada 10 April 2009 ini. Biasanya, pemilik album It’s Me ini akan menghubungi anaknya tiga kali dalam satu hari.

“Anakku ini sudah bawel banget dan sudah mulai protes. Maunya sama mamanya terus. Tapi sesekali saja. Kalau aku di rumah itu dia manja banget dan aku pikir itu wajar,” tutur Ussy.

Malah, jika bicara manja, justru sebaliknya, bintang sinetron Cintaku di Rumah Susunini yang tidak bisa meninggalkan anaknya berlama-lama. Bahkan, jika dirinya bekerja, Shafa anaknya kerap diajak. Cuma, jika akan mengajak anak bepergian, Ussy akan melihat kondisi dan situasi. Jika acaranya tidak terlalu lama dan tidak sampai larut malam, anaknya itu pasti dibawanya.

Kebersamaan ini yang dirasakan perlu untuk mendekatkan komunikasi antara ibu dan anak. “Kalau aku pergi lama itu yang jaga neneknya. Perhatiannya juga sama kok,” kata Ussy.

Malah, kedekatan Shafa dan sang nenek, Nila Rosita ini yang membuat Ussy kagum. Menurut perempuan murah senyum ini perkembangan anaknya bersama ibu kandungnya itu maju pesat. Ada beberapa hal yang membuat Ussy tersenyum, terutama ketika mengucapkan perbendaharaan kata baru.

“Anakku ini sudah sangat pintar. Banyak kata-kata yang mulai diucapkan. Malah perbendaharaan kata bahasa Inggrisnya sudah mulai banyak,” akunya.

Tak heran jika Ussy memasukan anaknya dalam sekolah anak berbahasa Inggris di Jakarta. Tujuannya agar anaknya itu lebih pintar dari orangtuanya. “Ibunya sudah bodoh, tapi anak tidak boleh. Anak harus lebih baik dari orangtuanya,” ucap Ussy.

Namun, jika anaknya sudah dewasa kelak, pemain sinetron Samson Betawi ini tidak akan membatasi ruang gerak anaknya dalam beraktivitas. Termasuk menentukan masa depan. Sebagai orangtua, dia hanya berusaha mendidik anaknya menjadi manusia yang berguna.

“Aku terserah dia saja nantinya. Aku tidak mengharapkan anakku sama seperti aku, tapi aku mengharapkan anakku bisa menjadi lebih baik,” ujarnya.

Selain itu, perempuan kelahiran Jakarta, 13 Juli 1980, ini berharap agar anaknya memahami nilai agama dengan baik. Sebagai orangtua, dia merasa bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan agama yang benar.

“Kalau masalah kecerdasan atau kemajuan anak lebih baik itu sudah pasti, tapi aku berharap anakku punya pendidikan agama yang cukup. Itu modal dia untuk masa depannya kelak. Anak yang berbakti kepada orangtua, masyarakat, dan Tuhan,” bebernya.