Pesan Terakhir Haji Bodong untuk Anaknya
Minggu, 6 Mei 2012 17:43 wib
Egie Gusman – Okezone
JAKARTA – Ishak anak almarhum Haji Bodong mengaku tidak memiliki firasat apapun ayahnya meninggal dunia hari ini pada pukul 05.00 WIB di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.
“Enggak ada firasat sama sekali,” ujar Ishak saat ditemui di kediamannya di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (6/5/2012). Ishak menuturkan, ayahnya tak banyak bicara sebelum meninggal. Karena sakit asma dan gangguan pernafasan juga faktor umur, keluarga memaklumi seniman Betawi itu tidak kuat secara fisik untuk bertahan hidup lebih lama.
“Obrolan kecil enggak ada, hanya bilang mau makan dan pipis. Pesan terakhir enggak ada, memang sebetulnya ngomongnya sudah jarang, karena umurnya sudah di atas 90,” terangnya.
Namun, Ishak ingat pesan terakhir ayahnya untuk anak-anaknya agar lebih displin dalam menjalani hidup.
“Bapak hanya pesan lebih disiplin dalam hidup kalian, begitu bilangnya,” katanya seperti meniru ucapan almarhum.
(tre)
Seniman Tetap Galang Dana untuk Haji Bodong
Minggu, 6 Mei 2012 20:14 wib
Egie Gusman – Okezone
JAKARTA – Saat H. Bodong masih dalam keadaan sakit, PaSKI (Persatuan Seniman Komedi Indonesia) sudah membuat proposal untuk menggalang dana bagi seniman Betawi yang meninggal dunia di usia 92 tahun itu.
Derry Sudarisman selaku ketua PaSKI mengatakan, dirinya bersama para seniman sudah siap membantu H. Bodong untuk mengurangi beban biaya pengobatan sakit asma yang diderita almarhum.
“Kita sudah siapin, kita sudah bikin konsep buat malam dana. Konsep sudah jadi, saya sudah menyebar proposal. Rencananya tanggal 19 Mei acara itu kita selenggarakan,” ujar Derry saat ditemui di kediaman almarhum H. Bodong di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (6/5/2012).
Namun takdir mengatakan lain, H. Bodong di panggil Tuhan YME hari ini pukul 05.00 WIB. Meski demikian, kata Derry, acara tetap jalan.
“Malam dana tetap kita lanjutkan hanya konsepnya yang akan kita rubah. Kita berharap tidak cuma pada saat ada yang sakit kita bikin konsep seperti ini, tapi kalau bisa setiap minggu,” harapnya.
(tre)
Teuku Rifnu Wikana Cari Duit dari Film untuk Bermain Teater
Selasa, 24 April 2012 08:25 wib
Iman Herdiana – Okezone
BANDUNG – Aktor Teuku Rifnu Wikana mengaku tidak bisa lepas dengan dunia peran alias teater. Kini, meski sibuk main di berbagai judul film, pria berdarah Aceh ini masih tetap menjalankan hobinya di bidang seni peran itu.
Teater paling anyar yang akan dilakoninya adalah lakon Rumah Boneka, karya sastrawan Norwegia, Henrik Ibsen (abad 19). Untuk memainkan lakon itu, dia bergabung dengan para seniman teater dari dua kelompok teater, yakni Institut Ungu dan Pentas Indonesia. Nominator Indonesian Movie Awards 2011 ini mengaku, dasar main filmnya justru berasal dari teater. ”Saya berteater sudah lama sekali, sejak kelas empat SD di Sumut. Nama kelompoknya, Teater 46,” tutur Teuku, ditemui usai jumpa pers pementasan Teater Rumah Boneka di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Senin (23/4/2012). Bagi bintang film Laskar Pelangi ini, teater banyak memberi pengaruh terhadap jalan hidupnya, termasuk di dunia film. Bermain teater membuatnya merantau ke Jakarta. Di Ibu Kota, dia main film. Selanjutnya, Teuku menjalani kedua seni peran itu hingga saat ini. Karena baginya, film dan teater memiliki banyak persamaan dan perbedaannya. Persamaannya, ada seni peran di film dan teater. Namun, ada proses yang lebih kuat di dalam teater. ”Saat di atas panggung, kita tidak bisa mengulang adegan yang salah. Di film bisa sampai ratusan kali ngulang,” ungkapnya. Artinya, kata pemeran Dayan dalam film Darah Garuda ini, teater memerlukan masa latihan yang panjang. Untuk sekali pementasan, bisa sampai puluhan hingga ratusan kali latihan dengan waktu lima bulan bahkan lebih. Sedangkan latihan untuk main film paling lama sebulan. Soal pundi-pundi uang, Teuku tak menampik film lebih menjanjikan. Malah di teater justru menghamburkan duit. Tapi Teuku tetap cinta dunia teater, dan tidak berniiat untuk meninggalkannya.
Untuk itu, dia menyiasatinya dengan giat main film, supaya bisa dapat uang banyak sebagai modal bermain teater. ”Jadi aku cari duit di film. Setelah dapat, aku bisa main teater, termasuk mensutradarainya,” ujarnya. Dalam lakon Teater Boneka, Teuku berperan sebagai Tigor. Lakon karya Ibsen itu berkisah tentang perempuan yang baru kawin tetapi tidak bahagia. Teater tersebut akan dipentaskan di Teater Tertutup Dago Tea House, Jalan H Djuanda, Bandung pada Rabu, 25 April dan Kamis, 26 April 2012. Sebelumnya, Teuku pernah memainkan lakon tersebut di Gedung Kesenian Jakarta November hingga Desember 2011 lalu. Saat itu, Teuku bermain bersama artis Chantal Della Concetta dan Maya Hasan.
(ega)
Bruce Willis Jual Resor Ski untuk Amal
LOS ANGELES – Bruce Willis merupakan salah satu aktor Hollywood yang dibayar cukup tinggi untuk setiap perannya. Tidak heran, dia bisa membeli sebuah resor ski untuk melepaskan penat dari dunia hiburan.
Namun, mantan suami Demi Moore itu memutuskan akan menyumbangkan resor populernya yang terletak di Idaho, untuk kegiatan amal.
Bintang Die Hard itu juga menjual tiga propertinya, sebuah rumah di Hailey dan bar yang nilainya mencapai USD19 juta atau Rp174 Milyar. Demikian seperti dilansir Femalefirst.
Sementara itu, Bruce dan istrinya, Emma Heming baru saja dianugerahi anak keempatnya yangdiberi nama Mabel Ray pada 1 April lalu. Sementara sebelumnya saat menikah dengan Demi Moore, dia memiliki tiga anak.(nsa)
Ingin Damai, Ramon Akan Beri Buku untuk Keluarga Ade Namnung
JAKARTA – Ramon Papana merasa sudah lelah berkonflik dengan keluarga almarhum Ade Namnung. Dia kini ingin merangkul keluarga Ade Namnung dengan berharap ada perdamaian.
Sebagai niat baiknya, pria bertubuh gempal itu akan memberikan sebuah buku yang berjudul “Kitab Suci, Kiat Tahap Awal Belajar Stand Up Comedy” kepada ibunda Ade Namnung.
Rencananya buku itu akan di tanda tangani serta dibungkus rapih. Ramon tidak peduli nantinya buku itu diterima atau tidak. Yang jelas buku itu simbol sebagai pembuka terjalinnya hubungan tali silaturahminya.
“Rencananya buku itu saya bungkus. Edisi pertamanya saya akan tandatangani dan saya kirim ke mamanya Ade Namnung. Kalau itu mau dibuang atau dibakar, enggak tahu ya, itu urusannya dia. Mudah-mudahan itu menjadi simbol ya, saya ingin membuka jalur silaturahmi,” terang Ramon saat ditemui di TPU Kebon Nanas, Jakarta, Sabtu (7/4/2012).
Ramon menuturkan, buku tersebut juga didedikasikan untuk Ade Namnung yang meninggal dunia 30 Januari 2012 lalu.(tre)







